Perbedaan Status Gizi Balita Berdasarkan Karakteristik Keluarga di Gampong Lamsod Kecamatan Darul Kamal Kabupaten Aceh Besar
DOI:
https://doi.org/10.30867/nasuwakes.v19i2.1600Keywords:
Balita, Gangguan Pertumbuhan, Karateristik Keluarga, Status GiziAbstract
Status gizi balita merupakan indikator penting dalam menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor keluarga, terutama karakteristik ibu, berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status gizi balita berdasarkan karakteristik keluarga di Gampong Lamsod Kecamatan Darul Kamal Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 27 ibu yang memiliki balita usia 1–5 tahun dan memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan ibu dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (85,1%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur ibu dengan status gizi balita (p=0,519), sedangkan pengetahuan ibu (p=0,001) dan pendidikan ibu (p=0,005) memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi balita. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan pendidikan ibu menjadi faktor penting dalam mendukung pemenuhan gizi serta perbaikan status gizi balita. Edukasi gizi kepada keluarga perlu diperkuat sebagai upaya pencegahan masalah gizi pada balita.
References
1. Adriani, M., & Wirjatmadi, B. (2012). Pengantar gizi masyarakat. Kencana Prenada Media Group.
2. Adriani, M., & Wiratmadi, B. (2014). Hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi balita usia 1–3 tahun di Desa Mobodis, Nusa Tenggara Timur. Jurnal e-Biomedik. https://jurnalebiomed.samratulangi.ac.id
3. Andra, et al. (2019). Hubungan karakteristik ibu terhadap status gizi balita di Kabupaten Kendal. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang.
4. Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh. (2017). Kecamatan Syiah Kuala dalam angka 2017. Badan Pusat Statistik Kota Banda Aceh.
5. Barasi, M. (2007). Nutrition at a glance. Blackwell Publishing.
6. Barasi, M. (2009). At a glance: Ilmu gizi (Hermin, Penerjemah). Erlangga. (Karya asli diterbitkan 2007)
7. Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia. Balai Pustaka.
8. Hidayati, T., Hanifah, & Sary. (2019). Hubungan penggunaan gadget dengan kemandirian dan kematangan sosial anak prasekolah. Deepublish.
9. Kartikasari, et al. (2017). Hubungan pendidikan, paritas, dan pekerjaan ibu dengan status gizi ibu hamil trimester III di Puskesmas Bangetayu Kecamatan Genuk Kota Semarang. Jurnal Animus. http://jurnal.animus.ac.id
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar antropometri anak. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
11. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022a). Buku saku hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
12. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022b). Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. https://layanandata.kemkes.go.id/katalog-data/ssgi/ketersediaan-data/ssgi-2022
13. Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi penelitian kesehatan. Rineka Cipta.
14. Notoatmodjo, S. (2010). Status gizi balita usia 1–3 tahun di Indonesia.
15. Prihatini, H. (2011). Gambaran keragaman makanan dan sumbangannya terhadap konsumsi energi protein pada balita pendek. Buletin Penelitian Kesehatan.
16. Wahyuni, I. S. (2016). Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi anak balita di Desa Ngemplak Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Kamalia Pohan, Eka Sutrisna, Husna Maulida, Masyithah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




