Edukasi Kutu Buku “Kukenali Tubuhku Untuk Menjaga Diriku” Pendidikan Kesehatan Dengan Media Poster Terhadap Perilaku Anak Usia Sekolah Tentang Pencegahan Kekerasan di SDN 1 Teubeng Kecamatan Pidie
Abstract
Anak usia sekolah (6–12 tahun) merupakan kelompok yang rentan terhadap kekerasan seksual karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan melindungi diri. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual pada anak yang berdampak serius terhadap kondisi psikologis, emosional, dan fisik korban. Pendidikan seks sejak dini menjadi salah satu strategi penting dalam upaya pencegahan kekerasan seksual, khususnya di lingkungan sekolah. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan kekerasan seksual pada anak usia sekolah melalui edukasi menggunakan Kutu Buku “Kukenali Tubuhku Untuk Menjaga Diriku”. Edukasi menekankan pengenalan empat bagian tubuh penting yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Kegiatan dilaksanakan pada 02 Desember 2025 di SDN 1 Teubeng, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan guru. Metode pelaksanaan berupa pendidikan kesehatan secara langsung dan interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program berjalan dengan lancar serta diikuti secara aktif oleh siswa dan guru, yang menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai upaya pencegahan kekerasan seksual.
References
1. Almual Hidayat. (2018). Pengantar Buku Keperawatan Anak (2nd ed; Dr.Dripa Sjabana, ed.). Jakarta: Dr.Dripa Sjabana.
2. Astuti, S. W. (2022). Pendidikan seks pada anak taman kanak-kanak melalui metode permainan ular tangga “Aku Anak Berani”. Promedia.
3. Azzahra, N. (2020). Faktor penyebab meningkatnya kekerasan terhadap anak dan tata cara penyelesaiannya menurut hukum keluarga Islam (Studi pada P2TP2A Kota Banda Aceh). UIN Ar-Raniry.
4. KPAI. (2022). Sejumlah kasus bullying sudah warnai catatan masalah anak di awal 2022. Komisi Perlindungan Anak Indonesia.https://www.kpai.go.id/publikasi/sejumlah-kasus-bullying-sudah-warnai-catatan-masalah-anak-di-awal-2022-begini-kata-komisioner-kpai
5. Mardiyati, I. (2015). Dampak trauma kekerasan dalam rumah tangga terhadap perkembangan psikis anak. Jurnal Studi Gender dan Anak, 2(1), 26–35.
6. Oktobernck, F., Cluver, L. D., Boyes, M. E., & Mhlongo, E. L. (2024). Risk and protective factors for physical and sexual abuse of children and adolescents in Africa: A review and implications for practice. Trauma, Violence, & Abuse.https://doi.org/10.1177/1524838014523336
7. Rahmiati, & Ninawati, M. (2020). Problematika perkembangan anak di sekolah dasar: Kekerasan seksual pada siswa sekolah dasar dan pencegahannya. Prosiding Seminar Nasional PGSD UHAMKA.
8. Sari, N. (2025). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kekerasan pada anak usia sekolah dalam keluarga di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jurnal Keperawatan dan Fisioterapi (JKF), 8(1), 31–40.https://doi.org/10.35451/tne06735
9. Sari, N., Neherta, M., & Fajria, L. (2023). Faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak usia sekolah dalam keluarga di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jurnal Ners, 7(2), 894–900.
10. Sommaliagustina, D., & Sari, D. C. (2018). Kekerasan seksual pada anak dalam perspektif hak asasi manusia. Jurnal Psikologi, 1(2), 76–85.
11. Sonia, G., & Apsari, N. C. (2020). Pola asuh yang berbeda-beda dan dampaknya terhadap perkembangan kepribadian anak. Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 7(1), 128.
12. Susanti. (2021). Persepsi dan cara pemberian pendidikan seksual pada anak TK. Penerbit Adab.
13. Wibowo, & Haryati, D. (2020). Asuhan keperawatan anak. EGC.
14. Zurriyatun Thoyibah, M. D. (2021). Gambaran dampak kecemasan dan gejala psikologis pada anak korban bencana gempa bumi di Lombok. Journal of Chemical Information and Modeling.











